Jumat, 21 Desember 2012

cerpen (cerita pendek) tentang kehidupan cinta remaja


I Hate You but I Love You
oleh : Sefsafca Diana Hemas
Ini cerita ku, cerita tentangku. Perkenalkan , namaku vika. Aku adalah seorang murid baru, murid yang baru masuk ke SMA maksud aku. Dari sini lah ceritaku dimulai. Aku baru mengenal mereka semua, orang-orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Mereka sangatlah asyik dan menyenangkan , tak kalah dengan teman-teman ku dari SMP dulu.
Suatu hari aku mengenal seorang cowok, cowok yang sangatlah menyebalkan. Aku sangat-sangat membencinya karna dia selalu menggangguku. Dan parahnya dia sekelas denganku. OMG… kenapa sih dia harus sekelas dengan ku. Haruskah aku bertemu dengannya setiap hari. Itu adalah hal yang sangat menyebalkan dan membosankan bagiku. Entah hal parah apalagi yang akan terjadi padaku setelah ini.
Beberapa hari telah berlalu, aku mulai terbiasa dengan sekolah baru ku. Akupun juga telah terbiasa dengan teman-teman baru ku. Tapi baru saja mengenal mereka aku sudah mendapat konflik, aku mulai tidak menyukai beberapa sifat temanku. Yang tidak aku sukai dari temanku yaitu tidak setia kawan, mereka sering meninggalkanku begitu saja. Mungkin mereka belum terbiasa denganku.
“cie-cie yang ditinggal sama temannya, cie aduh kasihan” kata Riski si cowok menyebalkan itu. Kenapa dia harus ada disini sih. Huh.
“ eh biarin dong. Yang penting gue punya temen dari pada loe gak punya temen. Huek” balas ku dengan nada mengejek.
“gue??? Eh sorry hlo, gue punya banyak temen dong”
“ah, masak sih? Sekarang mana coba temen loe?” hatiku mulai sangat jengkel dengannya.
“nih disini, yang lagi ngomong sama gue”
“ha??? Siapa? Gue??? Kalau gue gak mau???” aku pun langsung pergi tanpa mendengar jawaban darinya.
Keesokan harinya dia mulai berulah lagi. Pada saat jam istirahat, aku yang baru dari kantin sedang melihat dia duduk dibangku ku. Kenapa selalu dia lagi sih, kapan dia berubah baik padaku.
“minggir dong, gue mau duduk disini” kataku dengan nada jutek.
“em… tuh disitu ada kursi kosong” katanya sambil menujuk.
“apaan sih, gue maunya disini”
“maaf, kursinya sudah menempel denganku”
“iya-iya okey, dasar nyebelin. Huh!” gerutuku sambil duduk di kursi lain.
Kenapa sih dia begitu dengan ku, memperlakukan aku beda dengan yang lain. Bisakah dia baik dengan ku? Kapan? Aku menjadi penasaran dengan dia. Aku menjadi ingin mencari tahu tentang dia. Di kelas dia terlihat tidak semngat. Dia selalu terlihat galau. Andai saja aku bisa menghiburnya. Tapi sepertinya tidak bisa, aku sama dia kan seperti anjing dan kucing, gak bisa akur.
Aku ingin mencoba hal baru disekolah baruku. Ingin mencoba lebih aktif disini. Aku mencoba untuk menjadi panitia kemah.  Wow, ternyata tidak parah juga. Ini sangat mengasyikan, lebih dari yang ku bayangkan. Ada kesan special pada waktu berkemah. Seperti terjadi sebuah keajaiban. awalnya Aku sangatlah sibuk saat itu, hingga aku tak sempat memikirkan diriku sendiri. Dan akhirnya aku jatuh sakit saat sedang berkemah. Diruangan yang hanya ada aku seorang aku benar-benar merasakan kesepian. Tidak ada Seorang teman yang menjenguk atau menemaniku. Tiba-tiba pintu terbuka, dan ternyata dia, dia orang yang aku benci. Dia datang menemaniku.
“kelihatannya kamu terlalu capek. Ni aku bawain makanan sama minuman. Pasti kamu belum makan dari tadi pagi” katanya sambil datang menghampiriku.
“ouh, emm… makasih. Aku memang belum makan. Kok kamu tau sih??” aku terheran sambil menatap wajahnya.
“iya, kamu terlihat sibuk tadi, liat tuh kamu sampai jatuh sakit begini” kata Riski sambil memberikan makanan yang dibawanya.
“ah, masak sih… eh., kok kamu tau? kamu perhatiin aku ya???” aku semakin penasaran dengan dia.
“emmm, udah ini makan dulu makanannya, biar cepat sembuh”
“oh, emmm, makasih ya…” kataku sambil terus melihat Riski. sifatnya ini benar-benar beda dengan dia yang sebelumnya. Dia sangatlah perhatian dengan ku, lebih perhatiah daripada teman-temanku. Tapi aku bahagia setidaknya masih ada yang perhatian denganku, walaupun itu hanya dia. Dan aku sangat senang sekali karna semenjak itu aku menjadi akrab dengannya. Semenjak itu juga aku mulai mengenal siapa dia sebenarnya, dan semenjak itu sepertinya aku mulai suka dengannya. Huft, tapi sayang… dia sudah punya pacar. Pacarnya sih gak satu kelas dan gak satu sekolah dengan ku, dengan begitu aku bisa bebas dekat dengannya.
Hari demi hari berlalu, dan perasaan ku ini mulai berkembang dengannya. Aku sudah meyakinkan diriku bahwa dia sudah punya yang lain, tapi hatiku tetap saja memilih dia dan menginginkan dia. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya, cintaku padanya adalah cinta yang tulus. Dan aku sudah tidak bisa memendam lagi perassaanku ini. Ingin ku katakana yang sejujurnya dengan dia, apapun yang akan terjadi, aku akan siap menerima resiko itu.
Disaat jam pulang sekolah, seperti biasa aku keluar gerbang bersama dengannya.
“ris” kataku mempersiapkan mental.
“iya vik? Ada apa? Eh pelajaran b.inggris tadi menyenangkan ya. Gurunya itu beda dengan guru SMP” katanya sambil bercerita.
“iya benar.. tapi ris…”
“tapi apa? Matematika tadi? Oh iya,, menyebalkan sekali. Aku bener-bener gak mudeng sama pelajarannya tadi”
“bukan,, bukan itu. Tapi aku mau ngomong sama kamu.”
“eh, mau ngomong apa??”
“em… aku…. Aku… suka sama kamu.”
Deg-deg,Deg-deg. jantungku berdebar dengan kencang. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap.
“kamu… kamu beneran suka sama aku vik?”
“iya,, maaf sebelumnya, aku tau kamu sudah punya dia, tapi aku gak bisa nahan perasaanku ini. Menurutmu., kamu sama aku gimana ik?”
Dan sebelum dia menjawab pertanyaanku, aku sudah dijemput. Tanpa mendengar jawaban darinya aku langsung pergi begitu saja. Ah, kenapa jemputannya datang diwaktu yang gak tepat. Padahal aku sudah menyatakan perasaanku itu, dan tinggal mendengar jawaban darinya. Tapi tadi kenapa aku tinggal begitu saja? Uh, sangat menyesal aku meninggalkan dia. Pasti besok aku salting sama dia. Pasti sifatnya bakal berubah deh denganku. Uh.
Keesokan harinya aku berusaha untuk menenangkan diri. Aku takut untuk bertemu dengannya. Ya, apapun yang terjadi aku akan hadapi. Aku berusaha untuk memasuki kelas dengan tenang, dan tiba-tiba disaat aku duduk… “hai vik, tumben agak cepat?” ha??? Dia? Dia menyapaku? Riski menyapaku duluan. Oh senangnya hatiku. Tapi? Kenapa sifat dia tidak berubah dengan ku? Setauku cowok kalau habis mendengar akan seseorang yang suka dengan dia, dia langsung menghidar, apalagi dia.. dia kan sudah punya pacar. Dia aneh. Dia beda dengan yang lain…
“hei??? Kok bengong sih vik?? Ada apa??”
“emm… hehe gakpapa og ris J
Riski,Riski,Riski. Sekarang dipikiran ku hanya ada namamu, dan entah mengapa harus kamu yang aku pilih. Cowok yang jelas-jelas sudah punya pacar. Malam itu dia sms aku. Katanya terimakasih sudah jujur dengan perasaanmu itu. Aku pun juga mendapat jawaban yang kemarin tak sempat ku dengar. Katanya dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan ku, tapi itu perasaan yang belum pasti, karena dia juga sayang sama pacarnya. Agar dia bisa memastikan tentang perasaanya padaku, dia mengatakan ingin TTM-an sama aku, dia ingin menjalin Hubungan Tanpa Status (HTS). Dia ingin melihat, bagaimana perkembangan perasaanya itu padaku saat kita HTS. Karena tekad ku sudah bulat, jalan yang aku tempuh ini jalan untuk menemukan hatimu, apapun rintangannya, hadapi! Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujui itu.
Hari berikutnya tanpa teman-temanku tau akan hubunganku dan dia, aku dan dia lebih sering berdua. Gandengan tangan , bercanda bersama, SMS’an sampai malam dengan kata-kata sayang dan smile cium :* , telepon-teleponan, aku dan dia juga sering mengatakan kata “I Love you”. Itu semua aku jalani dengan sembunyi-sembunyi, tanpa teman-teman ku dan pacarnya tau. Kalau boleh aku mengelak dan meminta, aku juga gak mau mencintai kamu dengan cara menyakitkan seperti ini. Tapi aku capek juga dengan semua ini. Haruskah aku bersembunyi trus menerus? Apalagi temanku satu kelas itu ada yang teman pacarnya Riski. Jadi saat aku sedang terlihat berdua dengan Riski aku selalu merasa was-was jika ada dia.
Kenapa disetiap aku bersamanya, hari terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku masuk sekolah ini, sekarang tak terasa satu semester tlah ku lalui. Dua minggu libur sekolah dua minggu juga aku tak bisa bertemu dia. Rasanya berat karna hari yang kujalani selama ini selalu dengannya kini harus ku jalani sendiri. Beberapa hari liburan aku mendapat kabar dari dia. Katanya dia sudah putus dengan pacarnya. Aku kaget. Aku shock. Hati ku campur aduk. Rasanya seneng, sedih, semuanya dan itu menjadi satu. Aku langsung bertanya padanya “kenapa kamu putusin dia? Apa gara-gara aku?”. Dia menjawab “gak, bukan karna kamu. Mungkin ini memang saatnya untuk aku putus sama dia”. Aku lega mendengar pernyataan itu, tapi aku masih bertanya-tanya “lalu bagaimana perasaanmu sama aku? Apakh udah jelas? Apakah udah pasti? “. dia menjawab “belum, aku belum pasti akan perasaanku padamu. Hari senin nanti kita ketemuan, aku mau pastiin tentang perasaanku ini”. Aku selalu menyimpan pesan singkatnya itu. Aku akan menemuinya hari senin nanti. Senin adalah hari penentuanku.
Sebelum hari senin, ada yang aneh dengan dia. Dia mulai berubah dengan cepat padaku. Sebeumnya, malam itu aku dan dia sedang bertelepon. Kita mesra-mesra’an sambil mengucapkan kata I LOVE YOU. Paginya dia langsung berubah. Tanpa alasan yang jelas dia marah denganku. Ada apa sih dengan dia, kenapa dia marah denganku. Dan itu terulang berkali-kali. Aku selalu disia-siakan. Disetiap awal kita sms’an, selalu aku dulu yang memulai, aku duluan yang sms dia. Begitu dengan telepon, aku yang menelepon dia. Yang paling membuat hatiku sakit, saat kita smsan, dia menghentikan sejenak dengan alasan dia ingin makan dulu, aku hanyalah menunggu dan menunggu, dan setelah berjam-jam dia tidak menghubungiku. Apa yang kau harapkan dari cinta yang lebih banyak pengabaian daripada perhatian? Aku lelah dengan semua ini, aku merasa tidak dihargai. Aku telah menunggu lama dia sampai berjam-jam tapi dia tidak merasa itu. Tapi aku tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa marah dengannya, aku tau dia orangnya pemarah, aku tak akan memarahinya karna dia pasti akan marah balik. Aku sayang dengannya, sayangku tulus dengannya, bahkan aku rela melakukan apapun semuanya untuk dia. Dear pemberi harapan palsu : masih tegakah kamu membiarkan aku memperjuangkan ‘kita’ seorang diri?
Kalau aku tidak sayang, aku gak mungkin terus memperjuangkan mu hingga lelah letih, agar mampu mengetuk pintu hatimu. Aku terus memperhatikan dia dari jauh walaupun aku tidak bertemu dengannya. Aku membuka semua akun yang dia miliki untuk mengetahui semua tentang dia. Dan apa yang aku temukan? Aku kaget, aku terkejut. Ternyata dia masih sayang pada pacarnya itu. Apa yang dia rasakan tertulis pada akunnya itu. Apa yang telah terjadi, kalau begitu kenapa dia mutusin pacarnya? Apa benar gara-gara aku? Aku tlah merusak hubungannya mereka. Sepertinya dia juga tak bahagia bersama denganku. Mungkin inilah saatnya aku untuk melepaskan dia. Percuma saja hubungan tanpa status ini aku jalani, toh dia juga tetap sama saja, Riski hanya mencintai dia, bukan aku. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku sudah sakit dengan semua hubungan ini. Aku merasa tlah dibohongi. Perjuanganku selama ini untuk dia sia-sia saja. Hari senin itu sebelum dia memberi kepastian akan perasaannya selama ini, aku duluan yang menyelesaikan semua ini.
“ris, aku capek akan semua ini. Aku capek kamu sia-sia’in. aku mau udahin tentang hubungan kita yang gak jelas ini. Aku juga sudah tau, kamu masih sayang dengan mantan mu itu. Aku memang jahat. Merebut mu dari dia, tapi bukan itu maksud aku, aku hanya ingin bersaing dengan sehat untuk mendapatkan kamu. Aku juga gak minta allah buat suka sama kamu ” jelasku panjang lebar
“hlo vik? Kamu tau dari mana semua itu? Maaf ya vik, bukan maksudku untuk nglakuin semua ini sama kamu, tapi aku…”
“tapi kenapa? Udah deh, aku terlalu sakit hati dengan dirimu. Aku gak perlu KATA-KATA CINTA jika GAK TULUS DARI HATI. Makasih atas sakit yang kau beri"
Kenapa dia seperti itu, ternyata dia hanya mempermainkan ku. Mencintai kamu adalah kesalahan terindah dihidup aku. Kenapa? Karna aku mencintai hati yang memiliki dua ruang. Dipanggil sayang tapi tak benar-benar disayangi. Jangan janji jika tak mampu menepati, apalagi kalau urusan hati. Andai saja cintamu sekuat cintaku ‘saling memperjuangkan’, Pasti membahagiakan *andai saja L * . jika kau bahagia bersama dia, aku mencoba mengikhlaskanmu, dan mencoba tersenyum melihat kebahagiaanmu. Mencintai berarti keikhlasan, walau telah disakiti habis-habisan . Ajari aku untuk tetap bisa tersenyum saat hati aku hancur, ajari aku tuk tetap bisa mencintai setelah hati aku disakiti.

4 komentar: